A New Year in A Year

Leave a comment

Dear readers,

Selamat tahun baru buat anda semua yang merayakan imlek di tahun 2012 ini. Tahun ini katanya tahun Naga Air, and I don’t even care about this.hwhwhwhwhw.. Ya ini karena walaupun lahir di keluarga keturunan cina, tetapi keluarga kita sudah banyak memeluk identitas yang kalau dibahasa umat sejagat, disebut ‘Indonesian’, and I am so proud about this.

Budaya merayakan imlek lebih bermakna kepada event sekali setahun kumpulnya keluarga besar dan makan bersama. Well, di keluarga besar saya, ini berarti juga waktunya makan kue Sweetheart (baca post sebelumnya bagaimana saya sangat mengagumi kue ini). Tahun ini asik banget bisa ada libur dan bertemu saudara sepupu di Cimahi. Buat saya pribadi, mendengar percakapan dan cerita dari apa yang dialami saudara-saudara, om, tante, dan bercandaan mereka walaupun kadang memang tanpa arahan jelas alur pembicaraannya; itu hal yang spesial dan tidak kebeli dengan uang. Inilah esensi memiliki keluarga besar yang saling care dan tidak ada masalah satu sama lain. Memberi semangat baru untuk menjalani kehidupan dan niat yang besar untuk membangun keluarga bahagia dan concordia (Victoria Concordia Crecit=Victory comes within Harmony, Go Arsenal!).

Sulit sekali untuk menjelaskan secara tertulis mengenai apa saja yang saya alami, but let me share my happiness and moment through pictures below:

Laugh at Domino Pizza, PVJ

Eat Seriously at Domino Pizza, PVJ

Mama, Aih, Ngkim

Eating on Chinese New Year

Watching Movie

Watching News Over Tugu Tani Tragedy

The little one is mijn neef

Siska, Wewei, Ngku Yusuf

Wewei and Mijn Vader

Sekian untuk post blog awal tahun 2012 ini. Bulan januari saja sudah 2x tahun baruan, it should be a great year for the life.

Regards,

Yosua Kristianto

2011 in review

Leave a comment

The WordPress.com stats helper monkeys prepared a 2011 annual report for this blog.

Here’s an excerpt:

The concert hall at the Syndey Opera House holds 2,700 people. This blog was viewed about 9,700 times in 2011. If it were a concert at Sydney Opera House, it would take about 4 sold-out performances for that many people to see it.

Click here to see the complete report.

Last Memories of 2011

1 Comment

Dear readers,

Hari ini adalah waktu yang sangat tepat untuk memeluk erat tahun 2011 sebelum dilepaskan ke palung sejarah masa lalu hidup ini. 31 Desember adalah hari terakhir dari setiap tahunnya, yang berarti satu kesempatan terakhir untuk bisa menulis di blog ini.

Kebanyakan orang yang saya perhatikan melalui social media Twitter dan Facebook, mereka sangat bersemangat menyambut tahun baru. Ada juga yang over spirit, sampai-sampai ngepost terus tentang ketertarikan dan harapan-harapan mereka di tahun baru nanti, (tidak lupa dengan resolusi pribadi mereka). Namun ada juga segelintir orang yang menjadi ignorant dengan tahun baru nanti, orang-orang (saya memiliki kecenderungan tergabung dengan kelompok ini) yang menganggap hari terakhir di suatu tahun atau hari pertama di tahun baru sebagai “it’s just another day”.

Namun hari terakhir di tahun 2011 bisa menjadi lebih bermakna saat bisa berkumpul bersama keluarga. Memang tidak ada kegiatan yang special sekali seperti mengadakan pesta semalam suntuk, atau fine-dining di restoran mewah atau bahkan menyalakan kembang api sampai merusak pohon pisang sebelah rumah; tapi jauh lebih baik daripada berdiam diri sendirian di dalam kamar kos atau ramai-ramai hang out dengan orang-orang yang tidak terlalu dikenal. Menghabiskan tahun bersama orang-orang terkasih adalah salah satu cara yang terbaik tanpa perlu mengeluarkan banyak uang.

Bulan Desember 2011 ini, saya cukup disibukkan dengan berbagai kerjaan yang bisa dikerjakan, sampai-sampai untuk menulis post di blog saja tidak sempat. Padahal ingin rasanya bercerita tentang banyak hal menarik, salah satunya adalah ketemu dengan Raditya Dika (Manusia Setengah Salmon) di satu event,

Manusia Salmon dan Gw

atau merayakan natal bersama teman-teman carecell PU.

Dinner Christmas 2011 in Eagle Youth Hall

Namun di satu kesempatan terakhir ini, saya mau share sedikit tentang update terakhir dari kehidupan saya setelah tiba di Cimahi pada tanggal 30 Desember malam hari.

Sebenarnya bulan Desember adalah bulan di mana Mama saya berulang tahun, tepatnya pada tanggal 8 Desember. Saya tidak bisa hadir di hari ulang tahunnya karena memang tanggal 9 Desembernya harus menghadiri acara pengumuman hadiah kompetisi foto Deutsche-Welle 2011 (ditemani kolega kantor yang baik hati dan menyenangkan yang jika namanya ditranslate dari Indonesia ke Inggris akan menjadi ‘Diamond Precious Juice’, hwhwhwhw). Di event itu saya menjadi salah satu finalis namun gagal juara,

Ms. Diamond Precious Juice and Me

Ok emang rada nyeremin foto gw itu, ada orang bilang “Bagi beberapa orang, ke-kerenan seseorang berbanding terbalik dengan intensitas cahaya.” Artinya makin gelap cahaya di satu ruangan maka makin terlihat keren alias ‘tampang u keren, asalkan gak keliatan T.T’. Lihat gambar di bawah ini:

This one is better, I think

Dan tanggal 10 Desembernya saya ada ujian bahasa belanda, di mana saya kembali mendapatkan nilai ‘A’ sebagai hasil akhirnya. O ya saya sempat berfoto Volendam bersama Ella, teman sepermainan di kelas bahasa Belanda:

Ik en Ella

 

Okay balik lagi ke hari tanggal 30 Desember, saat saya pulang ke rumah ternyata sudah ada kue tart yang spesial dibeli karena saya pulang ke cimahi. Kue ini bisa dibilang spesial karena mama saya jarang sekali beli kue tart, biasanya dia buat sendiri, jika dia membeli kue tart dari luar berarti ada yang spesial dengan kue tart tersebut. Buat warga yang lahir di Bandung (Cimahi pada tahun 1987 masih dibawah naungan kota Bandung), tidak asing dengan toko kue Bawean (a.k.a Sweet Heart) yang sudah berdiri sejak 1946 (menyaingi Nyonya Meneer).

Bakerij Bawean memiliki satu kue tart andalan yang bertekstur bolu kasar namun di tengah-tengah lapisannya terdapat 1 lapisan spesial yang terbuat dari ruum. Mama yakin sekali bahwa tidak ada toko kue lain yang memiliki resep membuat lapisan ruum selain Sweetheart, bahkan rumornya, resep ini hanya diwariskan ke keluarga saja dan pegawai yang membantu membuat kue tidak diajarkan bagaimana caranya membuat lapisan istimewa ini (otak gw yang licik ini memang sangat cepat dalam berpikir licik, langsung kepikiran bagaimana caranya mendapatkan resepnya). Jika adik saya berpikir “Kita rebut saja resepnya seperti Mr. Plankton mau mengambil resep Crabby Patty.” (salah satu symptom majunya teknologi multimedia). Saya berpikir dengan cara yang lebih Royal, cara yang dipakai ratu Austria jaman dahulu kala untuk mengamankan negaranya, yaitu “Mana cucunya, gw nikahin aja sini.”, wkwkwkwkwkwk.

Special Sweetheart Taart

Anyway, kue tersebut memang sudah sejak lama saya sukai, karena dari kecil memang sering nyicip kuenya saat hari raya Imlek. So, saya sudah tahu dan tahu bahwa fitness yang saya lakukan beberapa kali terakhir ini untuk menguruskan badan, akan menjadi kesia-siaan semata. Nah karena saya gak sempet hadir di tanggal 8 Desember maka prosesi tiup lilin baru diadakan pada 30 Desember kemarin. Ini baru kita bisa bilang “Happy Very Belated Birthday”.

Mama 48 Years Old

Complete Family

And my last supper for 2011 was eating with my family in Pizza Hut, Cimahi. Look at my smiling and chubby face:

Last Supper 2011 at Pizza Hut Cimahi

That’s all. My last memories 2011. Kalau saya bisa simpulkan, 2011 bukanlah tahun yang mudah buat saya, tapi juga tahun yang menyenangkan karena saya banyak menghabiskan waktu bersama dengan keluarga. Hal yang memang saya rindukan ketika sedang bekerja dan hidup di Jakarta. Saya mencoba untuk realistis bahwa tahun 2012 nanti belum tentu menjadi tahun yang lebih mudah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Namun memiliki kepercayaan dan tekad yang teguh bahwa semua orang memiliki hak yang sama untuk berhasil dalam setiap kesusahan adalah ke-realistisan yang paling hakiki…

Gelukkig Nieuwjaar 2012!

Groetjes,

Yosua Kristianto

P.S. Wishlist 2012-nya nyusul di tahun 2012 nanti ya. ^^. Thanks for reading this post.

Hollandse Kleding

An Experience as Booth Assistant

Leave a comment

Dear readers,

Genap 20 hari sudah berlalu di bulan November 2011 ini , 20 hari juga saya sudah bekerja di kantor yang baru. Memang sulit ngeblog jika tidak ada waktu dan juga akses internet yang memadai di kantor baru dan sekarang saya bisa ngeblog karena pas lagi pulang ke Bandung untuk menghadiri pernikahan saudara saya di sini (senin tanggal 21 sudah harus ke Jakarta lagi T.T).

Pertanyaan yang lagi sering datang pada saya akhir-akhir ini adalah “Bagaimana di tempat kerja baru? Enak gak?”. Sulit sekali ternyata untuk menjawab pertanyaan seperti ini. Saya biasa menjawab “ya bantu doa aja. Gak gampang nih di kantor baru.” Jawaban  tersebut memang didasari dari fakta lapangan bahwa saya masih sulit beradapatasi di kantor baru, terutama dengan pekerjaannya. Mungkin karena efek kelamaan gak kerja jadi programmer, jadi aja logika dan pemikiran tidak seperti dulu lagi. Dengan kondisi kerja saya sekarang yang kesulitan menyelesaikan tugas-tugas, saya merasa sangat tidak puas dengan hal ini and that’s why I really need your prayer and encouragement for this issue.

Ada beberapa hal yang cukup menyenangkan juga sebenarnya di bulan November ini. Contohnya ya acara EHEF  tanggal 12-13 November 2011 kemarin di JCC-Senayan Jakarta. Pada event EHEF 2011 ini, saya berkontribusi sebagai booth assistant. Kerjaannya booth assistant sangat-sangat mudah (menurut saya), hanya membantu pihak universitas terutama dalam menjelaskan program-program studi yang ditawarkan menggunakan bahasa Indonesia atau menerjemahkan pertanyaan dan jawaban. Keuntungannya jadi booth assistant adalah saya jadi mengenal dan mengetahui dengan detail, hal-hal apa saja yang biasanya diperlukan untuk diterima studi di luar negeri.

Pada kesempatan kali ini saya membantu Rotterdam Business School. Saya tidak akan bercerita mengenai RBS dan program-programnya. Namun saya mau bercerita kesan saya selama membantu mereka saat EHEF berlangsung. Benar ternyata bahwa jika kita memelajari satu bahasa asing, maka kita akan menjadi lebih mudah berkomunikasi dengan orang dari negara tersebut. Saya merasa bahwa bahasa Belanda yang saya pelajari selama ini ternyata bisa berguna juga walaupun saya belum ke Belanda untuk kedua kalinya. Sungguh diuntungkan karena saya bisa sedikit bahasa Belanda maka saya cepat bergaul dengan Meneer Hyem, perwakilan dari RBS untuk EHEF 2011 ini. Sedikit bercerita tentang kehidupan masing-masing dan banyak membantu dalam memahami RBS itu sendiri. Dimulai dengan siang hari yang masih sepi dan tiba-tiba mulai ramai pada sore hari. Menyenangkan untuk bisa bertemu dengan orang baru dan berbincang-bincang dengan banyak orang yang antusias ingin melanjutkan studi di Belanda. Pada hari kedua yang memang hari puncaknya EHEF, kami dari RBS bahkan sampai menjelaskan program studi hingga ke depan area booth kami, saking banyaknya orang yang ingin bertanya.

Saya sangat dihibur saat melihat antusiasme pemuda-pemudi Indonesia yang mau terus belajar, mendapatkan pendidikan yang terbaik dan mau pergi jauh dengan resiko hidup jauh dari kenikmatan ‘rumah’ di Indonesia. Saya pun menjadi tersemangati untuk mempromosikan studi di RBS tersebut dan tidak lelah walaupun harus berdiri dan ngoceh seharian di tengah kondisi badan yang sedang flu dan masuk angin. Acaranya terbilang cukup sukses dari awal sampai akhirnya acara dan sebagai ucapan terimakasih mereka, Mr. Hyem memberikan saya 1kg Pepernoten, semacam kue kecil khas Belanda yang biasanya dibagikan oleh Sinterklaas pada anak-anak di Belanda sana. Saya senang karena bisa membawa kue kecil ini untuk keluarga di Cimahi menyambut suasana natal yang sudah dimulai di minggu-minggu ini. Dua hari yang melelahkan namun saya sangat menikmatinya karena betul bahwa segala sesuatu yang dilakukan dengan passion memang menyenangkan.

Lalu bagaimana dengan pekerjaan saya sekarang? Sayapun belum tahu ke depan akan seperti apa, apakah saya bisa mengikuti, apakah saya akan lolos masa percobaan 3 bulan, apakah saya akan beradaptasi dengan mudah dan mulai menikmati pekerjaan dengan sepenuhnya. Cuma yang jelas saya akan melakukan yang terbaik, mencoba mengimprove kemampuan dan berdoa agar segala sesuatunya tetap on the track. Saya bukanlah tipe orang yang optimistis, saya adalah orang yang realistis dan saya menilai untuk bisa sukses dalam pekerjaan adalah hal yang masih realistis.

Buat teman saya yang baru saja lulus perkuliahan, saya berharap kamu bisa bekerja dengan passion yang tinggi. Bekerja tidak selalu mengenai uang, bekerja tidak selalu mencari karir, bekerja adalah bagaimana mengembangkan kehidupan dan belajar menghadapi segala hal di dalamnya. Someday, I will sit and tell my children, my grandchildren about how I face many difficult things in my life and as a human, I never back off and keep forward…

Selamat malam dan selamat menjalani kehidupan ini kembali.

Salam sayang,
Yosua Kristianto

Booth assistant at RBS EHEF 2011

When The Logic Steps Aside

2 Comments

Hai Readers,

Selamat Hari Sumpah Pemuda (28 Oktober) dan juga Hari Blogger (27 Oktober) bagi kita semua pemuda-pemudi bangsa Indonesia dan juga blogger setanah-air (gak peduli ras dan sukunya apaan).

Pada saat hari blogger tersebut, saya sembat nge-tweet “hal mahal dalam ngeBlog adalah konsistensi. #HariBlogger” @yosuakristianto. Saya rasa statemen ini cukup benar, memang konsistensi tidak semahal insprasi dan hati dalam ngeBlog namun tetap sesuatu yang mahal. Oleh karena itulah, postingan ini dilahirkan, saya mewajibkan diri saya sendiri  untuk ngeBlog (Dutch: Ik verplicht me om blog te schrijven), minimal satu postingan dalam sebulan (Biasa sekarang akhir bulan).

Akhir-akhir ini kejadiannya campur aduk antara dag dig dug mau kerja di tempat baru nanti hari senin (31 Okt), hujan yang mulai mengguyur Indonesia, memikirkan mahalnya biaya hidup nanti di Jakarta, berat berpisah dengan 2 Kucing Tabby saya di Cimahi, kangen berat dengan Belanda (ini sih sindrom tiap Bulan),  ngiri sama Devita Ashianti (teman wanita saya yang sedang studi Master di Belanda, yang beberapa bulan lalu di Indo makannya sedikit dan tiba-tiba menjadi brutal setelah menginjakkan kaki di negeri kincir, wkwkwkwkwk) yang berhasil ke Prague sebelum saya ke sana (T.T tau gitu gw perpanjang lebih lama waktu di Belanda buat pergi ke Praha).

Masing-masing kejadian memiliki bobotnya sendiri, namun yang terberat menurut saya adalah dag dig dug mau bekerja di tempat baru. Jujurnya, saya masih sulit memahami bagaimana saya bisa diterima kerja di perusahaan baru saya, PT Freeport Indonesia, sebagai Software Engineer. Jika saya melakukan kilas balik, sulit sekali logika atau nalar ini memahami bahwa saya bisa bekerja di sana. Mulai dari interview pertama yang kacau balau, I think that was the worst work-interview that I have done in my life, kemudian interview kedua yang saya dalam keadaan ngantuk berat karena perjalanan jauh Cimahi-Jakarta+kemacetan ibukota,  tes bahasa inggris yang juga menurut saya lebih susah dari Toefl Ibt, dan terakhir tes kesehatan yang tak terlupakan (kali pertama pantat gw ‘dicolok’ demi ngecek gw ambien apa gak, gak percayaan thu dokter waktu gw ngomong gw ga mengidap ambien).

Sekarang saat saya udah keterima dan harus menjalani masa percobaan selama 3 bulan, mental saya sedikit jengjet (gak siap), karena saya tidak punya skill apa-apa di bidang IT yang akan saya geluti nanti. Yang saya tahu, saya bisa dan mau belajar, ini menjadi modal utama saya selama dua kali interview bersama department MIS, PT Freeport Indonesia. Cuma ya itu, kadang ada banyak kejadian di hidup kita yang gak bisa kita tangkep pakai logika atau kita terima oleh nalar, mungkin di saat kita mengalami hal seperti ini kita jadi diingatkan sama eksistensi Tuhan di hidupnya kita.

Orang bisa aja punya pemikiran lain, tapi kalau Tuhan udah punya rencana dan jalannya sendiri, sampai kecepit-kecepit juga orang gak bisa maksain pemikirannya. Jadi saya mencoba untuk menerima ini dengan mengakui Tuhan memang bekerja di hidup saya dan saya gak perlu dikuasai ketakutan dalam masa percobaan 3 bulan ke depan nanti. Saya hanya akan melakukan yang terbaik dalam membuat jalur cerita yang menarik dalam hidup saya dan sisanya, biarlah si Penulis yang mengatur jalan ceritanya hingga kesudahannya.

Bekerja di perusahaan yang besar seperti Freeport, the largest copper and gold mining in the world, bisa jadi adalah impian dari banyak orang di Indonesia. Ada banyak rumor bahwa untuk bisa diterima di Freeport itu susah banget perlu koneksi sana-sini, tapi sekarang saya masuk tanpa koneksi apa-apa dan saya bisa berkata masuk perusahaan sekelas Freeport itu tidak susah, jika kita banyak berdoa dan mau mencoba. Sewaktu hendak interview pertama kali, rumor masuk Freeport itu susah, seperti momok yang membanjiri left cerebral hemisphere (bagian otak kiri manusia untuk berpikir) saya. Tapi untung saya punya teman baik yang juga seorang blogger, bernama Angelina Evelyn (si penulis www.sweetlifeandstyle.com) yang menguatkan dan mendorong saya untuk berani mencoba. Benar ternyata apa yang seorang pujangga bilang dalam tweetnya “A Single Step that You Try, Will Lead You to other Bigger Steps in Your Life. Take a Step, Now!” @DeDichter. Akhirnya saya mencoba interview setelah mendapat dorongan dan juga paksaan dari orang tua, bermodalkan pengetahuan seadanya dan sikap mau belajar. Di sini saya bisa belajar bahwa acap kali saat interview, Sikap yang positif adalah satu entities yang lebih mahal dibandingkan dengan keahlian.

Jadi pelajaran untuk kita semua adalah, “Berani mencoba, walaupun mencoba itu kadang sesuatu yang perlu dipaksakan.”

Sekarangpun saya sedang mempersiapkan mental saya untuk kembali mencoba melangkah, memasuki masa-masa percobaan kerja selama 3 bulan dengan sikap dan mentalitas yang benar. Mungkin di beberapa bulan ke depan, saya akan lebih banyak ngeblog dibandingkan bulan-bulan sebelumnya, kembali menceritakan apa yang saya pikirkan, rasakan dan alami dalam keseharian saya di tempat kerja baru nanti beserta segala polemik kehidupan ini.

Doakan saya berhasil ya readers, setiap kata-kata dan doa positif dari anda bagi saya, sangat bernilai seperti H2O yang mahal harganya di tengah-tengah padang pasir kehidupan.

Salam Hangat,

 

Yosua Kristianto

P.S. Thanks to NESO Indonesia yang sudah ‘mengadopsi’ saya semenjak bulan Maret hingga sekarang saya mendapatkan pekerjaan penuh waktu di perusahaan yang baik. Segala perhatian dan kasih setiap orang di kantor NESO Indonesia menjadi satu pengalaman dan momen yang akan ceritakan kepada anak-cucu dan tiga generasi di bawahnya. ^^

Vanilla Sky, the Sky of Hope and Dreams

 

Hopefully 2012, (Gift from Devita)

A Promise of Starry Night

Leave a comment

Hai Hai Reader,

Udah lama gak update blog, jika saya cuma posting 1 bulan 1x, itu berarti saya lagi gak ada inspirasi ngepost.. Tapi tetep, I promised me to scribe at least 1 post per month. Thus, sebagai komitmen dan janji pada diri sendiri, saya membuat postingan ini dan berharap inspirasi itu kembali datang dan menyapa saya kembali. Dear inspiration, Ik mis je echt

Lagi-lagi saya akan mencoba buat poem, melanjutkan kisah antara prince en princess yang lagi cukup krisis. Satu pukulan berat memang bagi sang pangeran ketika dia mendengar kabar bahwa sang putri sedang mendaki gunung dan tidak ditemani oleh pangeran. Bukan karena tidak bisa tapi karena memang lagi tidak seperti itu aturan mainnya. Namun di tengah itu semua, pangeran mulai beristirahat dan mengamati bagaimana kehidupan ini ditulis dengan banyak ketidakpastian. Anyway, just read it down:

The prince kneeled down besides the lake of Cassandra,

He took a look to figure out the princess.

The water fades out brought the sounds of the saga

A Beggar acts like a hero, captives the heart of the princess.

 

The prince felt from his being,

kissed the mud of the life.

He is a meat with spiritless being,

inspired not for the life.

 

For the happiness of a couple

is the sorrows of a man.

 

With his remained adrenaline,

he took his legendary swords,

He stirred up the skies and began to scribe,

Fashioned his vision into words

 

I saw a night, I remember a night, I long for a night,

The night where I fashioned in tuxedo,

while you dressed in the royal garment.

 

Beneath the clean dark sky,

in front of the eye of Schmidt, we placed ourselves,

spirit-full as youth, you observe the luminary,

while I observe our fate in your divine smiles.

 

The fate that we stare to the same moon,

believing that our story is truly a boon.

 

I turn on the flame with a melody,

we eat Muscaria in hilarity.

 

We fly piercing the alley,

like a pair of pigeons,

We testify the beauty from the Valley,

along with the angels in legions.

 

The Strains of Piano has come

out of the fountain of devotion,

As the time has come,

to present ourselves, a potion.

 

You bring along your Rosé Champagne,

the royal sweetness of your heart,

the purest of your spirit.

 

I present you the Crème de Cassis,

the extraction of my life,

the finest of my characters.

 

Crème de Cassis structures the foundation,

Champagne glorifies the rest.

 

As our hands work together in harmony,

coining the Royal Kir,

Our hearts bind together in novelty,

coining the Royal Kiss.

 

I’ll dream the night, I’ll make the night…

That night, where we dance to the stars…”

— To Be Continued —

This story, a poem or a poetry, is inspired by a message that I have just seen by now that I should have seen it 2 months ago (such careless and late response, eh?).

Would you be kind enough to response, o ye my dearest reader…

Veel liefs,

Yosua Kristianto

P.S. Besides the message, I am also inspired by Kir..

Royal Kir

When I Saw A Grave in August

5 Comments

Hi readers,

Menutup bulan Augustus 2011, saya mau memberikan sedikit update tentang bertambahnya anggota keluarga kami. Pada bulan ini, kami memiliki satu anggota baru di rumah, dia bernama Monte Carlo, seekor kucing bercorak hitam yang amat sangat lucu. Ya bagi keluarga kami, setiap hewan peliharaan adalah keluarga, we love them unconditionally and that’s why we defined ourselves as family.. Monte ditemukan saat mama saya sedang beli bakso langganan, mendapat rekomendasi dari tukang bakso tersebut, maka kucing yang kemungkinan besar juga yatim piatu ini kami adopsi. Kembali, satu kucing yang beruntung, derajat hidupnya naik dari kelas bawah (kucing jalanan) menjadi kucing rumahan yang tidak perlu repot-repot mencari makan ataupun mencari tempat berteduh kala hujan turun. Awalnya kami ragu dia bisa bertahan di rumah karena ada Blondi, Blondi jarang sekali bisa akur dengan kucing berjenis kelamin pria. Namun setibanya di rumah, Blondi tampak sreg, memiliki chemistry yang cukup pas dengan si Monte ini sehingga tidak ada pertengkaran atau mengambil sumpah rivalitas kucing satu dengan lainnya. Mereka bisa bercanda bersama, makan di satu piring yang sama dan juga berebutan minum dari satu tempat yang sama. Manusia di keluarga kami, bisa bernafas lega karena tidak perlu mengajarkan kedua kucing ini bagaimana membuat perjanjian damai jika mereka terlibat perang dunia kucing.

Monte memiliki karakteristik yang cukup berbeda dengan Blondi. Jika Blondi adalah tipikal kucing yang menurut saya Berisik dan juga sok jago; sedangkan Monte tipikal yang kalem, gak banyak omong dan sangat manja. Kemanjaannya terlihat sejak dari hari pertama dia tiba di rumah, dia suka sekali duduk di pangkuan manusia atau jika sedang ngantuk dan misal saya lagi nonton tv sambil tiduran maka dia naik dan duduk di atas dada or leher saya minta dielus (satu waktu saya memang harus meyakinkan diri bahwa dia adalah kucing bukan vampir). Simply says: He loves to be loved, and I love to caress cats (and my wife & children, later). Monte juga senang sekali gangguin Blondi, jadi jika Blondi sedang tidur maka dia akan mendekat dan mencoba membangunkan Blondi atau jika dia ngantuk maka akan mencoba tidur di dekat Blondi. Blondi juga perduli sama Monte, saat Monte pergi ke luar rumah maka Blondi akan mencoba mencari dia, walaupun akhirnya gak ketemu juga sih dan pas Monte pulang, si Blondi yang malah kita cariin atau kita tunggu sampai dia pulang sendiri. Kepedulian Blondi terhadapa sesamanya ini membuat saya cukup berbangga sebagai anggota keluarga; berarti kami berhasil menanamkan nilai “love and care your family” bahkan kepada seekor kucing. Ingin tahu bagaimana gambarannya, kijk aan volgende foto:

Monte en Blondi

Monte Close Up

Ok kita jangan lama-lama memandangi foto kedua kucing saya yang selucu saya itu. Pada minggu lalu, saya menemani mama saya pergi ke Kerkhof (nama jalan di kota Cimahi dalam bahasa Belanda yang berarti Pemakaman), ya mungkin karena jaman dulu di Belanda banyak orang dimakamkan di belakang halaman gereja atau bahkan di bawah gereja itu sendiri makanya disebut Kerk (Church) + Hof (Yard/Court). Memang di jalan Kerkhof ini ada satu tempat pemakaman di mana beberapa anggota keluarga kami seperti Nenek, Tante  dan kerabat lain yang dimakamkan di tempat ini, jadi saya tidak asing dengan Kerkhof. Balik lagi ke kejadian minggu lalu, karena ada papa dari teman orangtua saya yang meninggal jadi kami ikut melayat ke sana. Ternyata saya dan mama tiba terlalu awal di sana, kami bahkan harus menunggu 1 jam baru datang rombongan jenazahnya.

Nah selama 1 jam ini saya melakukan tur singkat seorang diri mengitari kerkhof. Ternyata cukup banyak juga orang Belanda atau orang Indo-Belanda, yang dulu tinggal di Indonesia dan akhirnya wafat di Cimahi, dikuburkan di Kerkhof. Hal ini menarik perhatian saya yang sedang belajar Bahasa Belanda, saya bisa membaca kalimat-kalimat yang terbubuhkan di nisan orang-orang berbahasa Belanda tersebut. Tulisan yang paling sering saya jumpai tentu RIP (Rest in Peace) dalam bahasa Belanda yaitu RIV (Rust in Vrede) disertai dengan kata beloved yang dalam bahasa belanda menjadi geliefde,contoh formatnya:

Hier rust in Vrede

Onze geliefde vader/moeder en opa/oma

(Voor Naam Achter Naam)

Geboren: (Dag-Maan-Jaar)

Overleden: (Dag-Maan-Jaar)

Namun ada beberapa nisan yang cukup spesial dengan memberikan note yang personal atau berbeda dengan format di atas itu. Ada yang menambahkan di bagian paling bawahnya “Zie Je straks, Man!” (See you later, Man!). Ada juga yang memang dari keluarga lumayan mungkin cukup berada seperti makamnya keluaga Vogt. Saya pribadi tidak tahu menahu dengan keluarga ini karena jauh sebelum saya lahir, mereka sudah overleden (meninggal). Namun saya tersentuh dengan kata-kata yang ada di nisan mereka, penggalannya seperti ini

zijn leven is voorbld door woorden van hoop, troost, lijden, en strijden blijven tot en met de eeuwigheid.” yang berarti:

“Hidupnya adalah contoh dari kata-kata: harapan, penghiburan, penderitaan, dan perjuangan terus menerus sampai kekekalan”.

De Graf van Opa Vogt

Jika anda memperhatikan di sebelah kanan, anda bisa melihat seperti ada sepenggal surat dari anak kecil, ada gambar matahari, balon bahkan bintang di keramik putih sebelah kanan itu. Ini yang membuat saya sampai mengabadikan foto nisan ini. Saya makin tersentuh dengan pesan terakhir yang diberikan oleh para cucu bagi opa Vogt ini. Satu budaya yang menurut saya baru pertama kali saya lihat dan saya sadari. Selama ada anggota keluarga saya yang meninggal, tidak ada satupun yang membuat pesan secara spesial seperti ini. Mungkin memang opa Vogt ini spesial buat cucu-cucunya hingga para cucunya meminta agar puisi terakhir mereka tentang opa diabadikan di samping makam opanya.

De Oorkonde van De Kleinkinderen

Setiap kata yang ditulis benar-benar touchy, bahkan dari pembukaannya saja sudah cukup spesial. Saya akan coba translate puisi tersebut kalimat per kalimat ya sekalian kita belajar bahasa Belanda sedikit, graag:

- De Oorkonde voor de liefste opa: The Award for the Sweetest Opa

- Opa is degene waar ik van hou: Opa is the one that I love

- kom daarom maar weer gauw: thus come again soon

Ons Samenzijn is altijd plezier: Our togetherness is always pleasure

- blijf daarom nog heel lang hier: remain so for a long time here

- Een dikke zoen: A big kiss

Pesan yang indah dan juga memperhatikan rima dari kalimat per kalimatnya, heel goed!

Peristiwa ini bermakna besar saat saya merenunginya sepanjang hari tersebut, pemikiran saya ditarik untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan jika saya yang nantinya harus tasting the death, seperti:

- Di mana nanti saya mau dimakamkan? Seperti apa makamnya?

- Saya seorang penulis puisi dan prosa, kata-kata apa yang mau dicoretkan di nisan saya nanti?

- Seorang Suami (klo saya nikah), seperti apa yang akan saya hidupi?

- Hal berharga apa yang saya bisa beri untuk anak-anak saya (gak perlu nikah juga saya bisa adopsi anak)?

- Bagaimana gambaran saya sebagai seorang opa di kenangan cucu-cucu saya nanti?

- Apakah angka-angka di bagian overleden?

Pertanyaan-pertanyaan tersebut terlintas di benak saya, memang ada juga yang ngaco atau gak penting banget tapi memikirkan saya mau menjadi opa yang seperti apa adalah hal yang baru kali ini saya pertimbangkan. Memang masih kejauhan sih untuk menjawab satu dari pertanyaan tersebut. Cuma satu hal yang jelas, sebagai seorang penulis, saya berharap kata-kata terakhir di nisan saya nanti adalah kata-kata yang indah, inspiring, ethereal and atmospheric. Hal ini berarti saya harus menjalani kehidupan yang layak dan sesuai standar dengan ciri kata-kata tersebut; sehingga saya tetap menjadi orang yang jujur bahkan setelah saya tidak ada di bumi nanti. Kata-kata di nisan saya nantinya bukanlah seuntai kata-kata seperti orang promosi jualan SIM Card HP (banyak gak sesuainya) atau kata yang memang terlalu dihiperbolakan; melainkan itu akan dirangkai menjadi kalimat-kalimat cerminan dari perjuangan hidup saya ini!

“Honesty is the Best Marketing Words in the Worlds!”

My last words in this post,

“Starting from our roles in our family, Be someone who can be proud of!”

Your family man,

Yosua Kristianto

P.S. Building family is like building the stairs to heaven. We always aim the star, not enough with the sky..

O ya, this is my new hair-cut, even I looked like Mr. Gayus, believe me I have different Personality

Familie Vakantie Naar Singapore, Tweede Dag

Leave a comment

Hai readers,

Menyambung dari kisah perjalanan keluarga ke Singapore, kali ini saya mau mencoba menceritakan pengalaman hari kedua kami. Rencana kami pada hari kedua adalah sightseeing menggunakan Hippo Tour. Paket Flyer yang ditawarkan memang terbilang cukup menguntungkan, dengan mengeluarkan biaya sebesar 49 SGD per orang, maka kami dapat akses Hip on dan Hop off selama 48 jam dan juga bisa naek River Cruise + Singapore Flyer klo kita beli tiket satuan maka River Cruise 15 SGD + Singapore Flyer 29 SGD, total 44 SGD, cuma beda 5 SGD saja untuk akses 48 jam bus Hippo Tour, cukup murah!

Okay pagi hari saya sudah bangun (karena dibangunin mama), breakfast bareng papa (gw makan udah kaya monster) dan siap menjalani kegiatan-kegiatan hari ini yang sangat berkesan.

Zijn Klaar voor de Tweede Dag

Dari hotel kami naik bus 1x langsung berhenti di Orchard Road. Setelah membeli Flyer Package, kami langsung menggunakan Hippo bus untuk sekedar keliling dan melihat-lihat bagaimana kota Singapore di pagi hari. Seperti sebuah mimpi, bisa menikmati kota dengan gedung-gedung tinggi dan juga tertata dengan rapih tanpa ada yang namanya KEMACETAN. Berbeda sekali dengan apa yang biasa kami alami di Bandung ataupun Jakarta. Walaupun lama-lama bosen sih, terutama adik saya yang kurang suka jalan-jalan dan berasa ngantuk sekali pada pagi itu.

Bus Hippo Original Tour

 

In the Bus

Along the Way

Nice Shot inside the Bus

Akhirnya, selagi orang tua menikmati pemandangan kanan-kiri, sayapun sedikit tertidur di bus tersebut.

Sleeping Everywhere hwhwhw

Setelah puas 1.5 jam keliling-keliling, maka kamipun memutuskan untuk turun di Chinatown karena mau beli cendera mata bagi orang-orang yang kami kasihi seperti saudara, kekasih hati, dan teman-teman kami. Ini tentu jadi bagian favoritnya mama saya, sebagai wanita satu-satunya di keluarga kami hanya dia yang memiliki passion berbelanja di atas rata-rata. Sedangkan para lelaki seperti saya, papa dan dede, kami hanya menemani jalan dan komentar “lama amat, ayo jalan lagi ke sana. Jangan disini aja.”

Fam in Chinatown

Papa walked along Chinatown

 

I wished I had one

Kami juga makan siang di Chinatown, papa saya pesen Mie, mama pesen Bihun, dede pesen nasi goreng, nah saya cuma pesen jus Pisang-Strawberry (masih kenyang karena makan gila-gilaan waktu breakfast tadi). O ya segala keperluan beli oleh-oleh sudah dihandle oleh mama, jadi buat yang gak kebagian, please don’t complain to me. hwhwhwhwhw

I love the way I looked

Lunch at Chinatown

Di daerah sekitar chinatown  di hoek jalan juga ada satu kuil Hindu yang cukup besar yang sedang direnovasi sehingga pengunjung pada hari ini tidak bisa masuk untuk sekedar melihat-lihat, kami hanya bisa melihat dari luar saja.

Papa in front of Hindu's Temple

Satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah patung sapi yang berada di atas tembok pinggiran kuil tersebut, ternyata patung tersebut merupakan tempat favorit bagi persinggahan burung-burung di daerah sana. Sehingga patung ini menjadi pelampiasan digestive system  para burung, mungkin karena warnanya putih jadi burung-burung tersebut berasa comfy banget. Well lihatlah malangnya patung ini:

Nasib-nasib

Beranjak dari Chinatown, kami kembali masuk ke Bus Hippo Tour, untuk beristirahat di bus sembari melanjutkan perjalanan ke Merlion Park. Merlion Park adalah tempat yang wajib untuk dikunjungi bagi semua orang yang berwisata ke Singapore. Bukan hanya sebagai tempat untuk berfoto bersama patung Merlion yang jadi ikon negara Singapore, tetapi tempat ini memiliki 360 view yang cukup perfect untuk melihat modernitas Singapore. Ya singkat kata, ini adalah tempat ok buat foto-foto dan juga mejeng-mejeng.

At Merlion Park

Di Merlion Park ini, saya (yang sedang galau walaupun saat liburan) cukup terhibur karena saya bisa melihat Rainbow tepat di bawah cucuran air si Merlion. Melihat Rainbow itu adalah peristiwa yang cukup langka bagi saya, jika dipikir lagi, mungkin dalam1 tahun saya cuma melihat itu 3-5 kali saja dan saya jarang sekali menemukannya di kota besar seperti Jakarta. Nah mengapa Rainbow ini menghibur hati? Karena saya teringat akan quote terkenal di dunia ini (gak tahu sama yang coined ini): “Everyone wants happiness, no one wants pain, but you can’t make a rainbow without a little rain.” I bear so much pain of losing the weight of a relationship and while I am striving for weighing it, but I remember that it will be very nice, I will make a rainbow by enduring the little rain…

Rainbow of A Little Rain

Do you read my hand's sign?

Reading the Merlion's Poem

I don't really get it

Setelah puas mengambil beberapa foto dan terkagum-kagum dengan pemandangan di sekitar kami, maka kamipun berjalan menyusuri Singapore River. Satu hal yang membuat papa terkesan adalah jalanan di Singapore yang memang direncanakan dengan baik, salah satunya terlihat dari banyaknya “underpass” yang dibuat untuk memudahkan para pejalan kaki.

Underpass Near Merlion Park

Bahkan di salah satu underpass, ada counter Starbucks jadi kami bisa memesan kopi dan duduk-duduk bersantai jika kami lelah berjalan (di Indo mungkin gambaran yang hampir sama adalah menjamurnya tukang DVD bajakan di bawah jembatan T.T).

Holding Starbucks

See the Bridge, we have passed the Underpass

 

Setelah berjalan sembari menikmati Starbucks, tiba-tiba kami mendengar ada helikopter terbang mendekat, kemudian ada ledakan, ada tentara yang loncat dari helikopter tersebut ke laut lepas, bunyi rentetan peluru terdengar sangat dekat dan dentuman-dentuman mengguncang bumi. Suasana perang semakin terasa saat 3 buah pesawat jet tempur terbang melintasi kepala kami. Ya itu adalah suasana gladibersih dari perayaan National Day Singapore, 10 hari sebelum hari H.nya (9 Augustus). Kami sangat beruntung bisa melihat proses latihan dan gladibersih ini, at least kami jadi punya gambaran bagaimana pemerintah Singapore menyusun satu acara perayaan yang cukup serius dan berkesan, bahkan untuk gladibersih saja mereka sudah mempersiapkan fireworks yang biasanya hanya kita lihat jika tahun baruan. O ya, suasana perang tersebut membangkitkan adrenaline saya (I wished I lived in WW II era’s).

One of Team for The Attraction

The monument is similar with the Obelisk in Paris (see the helicopter?)

Their "Paskibraka" is Copters

Selepas Euforia singkat, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan berjalan kaki rencananya mau foto depan patung Mr. Raffles, cuma ternyata gagal. Daerah sekitar Patung Raffles lagi direnovasi jadi tidak cocok untuk foto-foto, akhirnya kami lanjut lagi ke arah Hotel Fullerton. Hotel Fullerton adalah hotel yang sangat mahal, baik dari harga nginapnya ataupun dari sejarah hotel ini dibuat, miliaran US Dollar ngocor untuk membangun bangunan ini. Saat tahun lalu merencanakan trip ke Singapore ini, saya memang sudah berencana untuk sekali nginap di hotel ini namun apa daya, usul saya itu tidak didukung oleh Papa dan Mama, mereka menganggap itu adalah sesuatu hal yang boros dan lebih baik uangnya dipakai untuk beli oleh-oleh or buat main-main di Singapore (so saat 2015 saya ke Singapore lagi, saya berharap saya bisa merealisasikan keinginan saya menginap di Fullerton, so pray the best for me hwhwhwhw). Yah jadi sekarang cuma bisa foto di depannya dulu saja.

Fullerton

My Brother with His Style

Di dekat Fullerton juga ada beberapa statues yang unik, seperti patung anak-anak yang sedang loncat, nyebur, ke Singapore River ataupun patung satu kumpulan orang sedang berdiskusi. Karena saya dan dede iseng, maka kami mengubah sedikit cerita dari patung anak-anak yang sedang loncat bahagia ke Singapore River, versi cerita kami, anak-anak tersebut tidak sedang meloncat bahagia namun sedang kami tendang-tendang hingga jatuh ke sungai karena mereka iseng dengan kucing-kucing peliharaan kami (anda pun bisa bernasib sama jika berani mengganggu binatang peliharaan keluarga kami wkwkwkwkwkwk).

Kick them down!

Vergadering

It's getting dark

Classic on the right, modern on the left

Best Spot to Kill the Time

Setelah hari mulai gelap, berarti sudah waktu yang tepat untuk melakukan River Cruise. Mengitari Singapore River memang tidak lama, hanya sekitar 20 -30 menit saja, namun cukup mengistirahatkan kami dengan segarnya angin malam dan juga pengalaman mengitari sungai Singapore yang memang bersih, tidak ada satu sampahpun di sungai tersebut. Buat kami sekeluarga yang tinggal di Cimahi-Bandung, kami hanya akan dibilang “delusional” jika berani membayangkan menikmati River Cruise di Sungai Cikapundung (oh andai saja aku bisa kembali ke 200 tahun lalu, di mana Sungai Cikapundung masih layak untuk dikagumi dan dibanggakan oleh warga Bandoeng).

Singapore River Cruise

Cruising under the Bridge

That smile is enough to seal the day

That’s our second day (tweede dag), hari yang cukup melelahkan karena banyak berjalan kaki. Setelah kembali ke hotel dengan selamat (mulai terbiasa dengan penggunaan MRT), mandi air panas, papa saya hanya butuh waktu singkat untuk tidur (The fastest human being in falling asleep.

Vermoeid

Sedangkan saya masih lanjut nonton film seri cina kemudian perlahan-lahan menghilang ke alam mimpi, sembari menitikkan air mata, expecting to meet you, yes you in my dreams (but I don’t think you’re expecting the same thing or even thought about me. Well I’ll never know if you stay silent)…

 

With Love and Care,

 

Yosua Kristianto

P.S. For every starry nights that we can’t experience together, I just want to say to you, “sweet dreams, see u there. Don’t be far because I am hardly seeing if u’r far.”…. I’m off to sleep now.

 

Questions of FeY

Leave a comment

Dear readers,

Feel free to answer and share your thoughts for I want to know while I hate knowing…

If we can compare things, which one you choose:

 

- Bathing in the pool of sulfur while being delusional, or

dancing in the garden of thorns while losing entire life.

 

- Walking in to the jungle of deceptions while gaining bread, or

standing in front of the statue of virtue while dreaming honey, eating tears.

 

Breaking the body, outpouring bloods, while sustaining life of eagles, or

being the wind, going to the south while feeding not yet forgettable.

 

- Repainting the pictures while losing its masterpiece or

keeping the masterpiece while seeing nothing.

 

For the sentences are only a word, for the many are actually one… ?

What we called as camaraderieare is worth only eirōneía? …

 

-YK-

Symbol + Letter

A Paste of Sonnets From The Portuguese

1 Comment

Hai readers,

In every posts that I ever made, I never never quote so much thing from other writer.

However this one is really special one. Tonite, I can’t sleep, no winds and no thunders but my heart is swept away and thundered by the atmosphere.. So, I was reading a poetry book,  then I read this magnificent poetry from Elizabeth Browning, I knew that my capability on making a legendary poet cannot be compared with her level, I am just 1000 years too young to reach her level.

As my salutation, I will paste her poet named “How D o I Love Thee? Let Me Count the Ways”. Hope that you are gonna like it and can learn from her..

How do I love thee? Let me count the ways.
I love thee to the depth and breadth and height
My soul can reach, when feeling out of sight
For the ends of Being and ideal Grace.
I love thee to the level of everyday s
Most quiet need, by sun and candle light.
I love thee freely, as men strive for Right;
I love thee purely, as they turn from Praise.
I love thee with the passion put to use
In my old griefs, and with my childhood’s faith.
I love thee with a love I seemed to lose
With my lost saints—I love thee with the breath,
Smiles, tears, of all my life!—and, if God choose,
I shall but love thee better after death.
Elizabeth Barrett Browning, Sonnets from the
Portuguese (1850), Sonnet 43

Ahh I wish I can reach this level of writing..

Older Entries

Follow

Get every new post delivered to your Inbox.