April, The Month of Heroes

Dear Readers,

Bulan April, bulannya Kartini dan Warkop.

Buat orang yang hidup di pulau Jawa, sudah tidak asing ya dengan perayaan Hari Kartini, yang bergelar ibu negara Indonesia. Setiap bulan April dari jaman masih SD kita melakukan parade menggunakan baju daerah masing-masing dan itu terasa sangat menyenangkan (karena kegiatan belajar mengajar di hari itu diganti dengan merayakan hari kartini, a.k.a kartinian). Sampai sekarang gw udah dewasa pun ternyata hari Kartini masih dirayakan bahkan di kantor gw dengan lebih spesifik untuk para wanita. Mereka bekerja pada hari itu menggunakan kebaya dan menghadiri seminar yang kembali membahas mengenai emansipasi wanita, sebuah topik yang dibahas dari tahun ke tahun dan entah sampai kapan stop untuk dibahas. Sejujurnya gw sangat mengharapkan hal itu untuk stop dibahas!

Keras kan statement gw di atas, ya gw mengharapkan banget emansipasi wanita itu ditegakkan di Indonesia dan sudah tidak jadi isu lagi. Wanita pada hakikatnya memang berbeda dengan pria namun wanita memiliki segala hak penuh untuk memiliki pekerjaan, status sosial dan pilihan-pilihan seperti pria. Budaya di Indonesia masih sulit menerima wanita sebagai figur pemimpin dan lebih memilih pria yang maju sebagai pemimpin baik di organisasi, partai politik, ataupun perusahaan. Padahal nyatanya pria tidak bisa dibilang selalu lebih ahli dalam menjadi seorang pemimpin dan wanita layak diberi kesempatan memimpin, terutama mencoba untuk memimpin negara ini. Okay, balik lagi ke topik semula, gw pengen banget saat tahun kapan gitu kita ngerayan bulan Kartini, kita udah ngebahas bagaimana peranan wanita bisa bekerjasama dengan pria untuk memajukan bangsa ini dengan lebih efektif, sudah tidak perlu lagi para wanita menuntut emansipasi dan hak-haknya karena pada tahun itu emansipasi adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia ini. Gw yakin suatu saat tahun itu akan datang dan itu pasti karena kita sudah punya para pemimpin negara yang bersih moralnya dan berintegritas, tidak seperti pemimpin dan wakil rakyat kita yang katanya pro rakyat tapi nyatanya….. ah sudahlah.

Pemimpin kita kelamaan hidup enak jadi kurang ngerti arti dari kata penderitaan rakyat, mereka harusnya malu dengan Kartini. Beda dengan Kartini, dia bisa dibilang hidup cukup enak sebagai inlander di jaman kolonialisme, ya karena dia berasal dari keluarga ningrat, tidak pernah kurang makan, nasi ada di rumah, mungkin juga dulu sering makan smoor daging tiap bulan dan pinter baca tulis bahkan nulis suratnya aja berbahasa Belanda (mungkin kalau jaman sekarang, Kartini akan banyak nge-tweet pakai bahasa Belanda juga). Nah kenapa Kartini bisa dikategorikan Pahlawan walaupun tidak pegang keris untuk nusuk tentara kompeni, itu karena di tengah hidupnya yang berkecukupan, Kartini ngerti yang namanya penderitaan rakyat. Dia sadar bahwa banyak wanita lain yang buta huruf, tidak memiliki skill dan pengetahuan yang cukup untuk menopang kehidupan mereka sendiri dan terpaksa hidup di bawah bayang-bayang kaum pria. Bukan karena pria lebih kuat secara fisik sehingga pria lebih diunggulkan daripada wanita, tapi karena wanita jaman itu minim pendidikan, minim kepercayaan diri dan ide kreatif untuk membuat terobosan kehidupan. Problem wanita tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup bukan cerita baru di jaman kolonialisme dari abad ke abad juga memang begitu, tapi Kartini yang hidupnya hanya 25 tahun, berani menciptakan solusi dengan membuka sekolah wanita pertama untuk inlander di Hindia Belanda, Keputusan yang sangat radikal di jaman itu! Keputusan radikal ini yang tidak kita lihat lagi sekarang di pemimpin kita, jangankan menciptakan solusi, mengakui kegagalan aja susah banget kayanya. Tahun 2013, Ujian Nasional bisa dibilang hampir gagal, dan seorang yang katanya pemimpin dan orang paling peduli dengan pendidikan di Indonesia bilang bahwa hal ini hanyalah sebuah Musibah (Gak malu kali ya ama Kartini). Pahlawan selalu memiliki kesamaan dalam hidup mereka, yaitu keberanian dalam melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan demi kepentingan banyak orang; hal yang langka di jaman kemerdekaan ini.

Di awal postingan ini, gw menyandingkan nama Kartini dengan grup komedi Warkop, dan gw sengaja melakukan ini karena keduanya layak disebut pahlawan buat Indonesia. Jika Kartini menjadi contoh bagaimana seorang wanita bisa menjadi orang yang signifikan, begitu juga Warkop menyontohkan Indonesia bahwa negara ini masih bisa tertawa di tengah-tengah kehidupan yang tidak mudah dan banyak polemik. Gw sendiri begitu menggemari semua film warkop terutama saat mereka masih muda-muda dan berperan sebagai mahasiswa. Saat gw kecil gw melihat bahwa kehidupan perkuliahan itu menarik dan asik, sesuatu yang sangat gw tunggu-tunggu di saat gw kecil itu. Sekarang saat gw udah dewasa dan bekerja gw tetap berpikiran seperti itu dan berharap masih bisa kuliah lagi (Tuhan dengarkan doa gw ini).

Ok, terlepas dari film warkop yang suka menggunakan artis seksi, yang membuat film ini begitu berkesan adalah karena komedinya yang orisinil dan khas (tidak contoh komedi-komedi orang barat), selain itu ada kritik sosial yang disiratkan dalam film-film Warkop. Para personil warkop semuanya berpendidikan sampai level universitas dan mahasiswa saat itu merekapun ada yang turun ke lapangan dan berdemo mengritik pemerintahan yang bertangan besi dan penuh korupsi. Mereka konsisten dalam melakukan kritik tapi dengan cara yang kreatif, dengan apa yang mereka bisa yaitu Komedi. Gw percaya bahwa sebuah legenda dbentuk saat orang-orang bisa melakukan apa yang mereka lakukan dengan kebebasan dan menuangkannya dalam sebuah karya yang bermanfaat buat banyak orang secara konsisten. Warkop adalah legenda komedi Indonesia dari masa ke masa. Salut buat Warkop, you are a legend.

Akhir kata, Bulan April banyak pelajaran dan hal baru yang gw mulai lihat dan gw berharap kalian juga melihat hal-hal yang baru dan berbeda dari hal-hal yang sudah biasa terjadi dari tahun ke tahun. Mungkin gw bisa sebut bulan April adalah bulan yang menggambarkan keberanian dan konsistensi. Di akhir bulan April ini, mari kita bulatkan tekad, berkarya bagi diri kita dan orang lain untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik di saat orang yang lain mungkin tidak memperdulikan hal ini, keberanian dan konsistensi kita adalah keputusan kepahlawanan kita!

Salam Merdeka,

Yosua Kristianto

Dalam Gelap Selalu Akan Ada Terang

Dalam Gelap Selalu Akan Ada Terang

The Game of Politic

Dear Readers,

Sebulan berlalu dari postingan sebelumnya ya, dan ternyata kabar baiknya adalah TIDAK TERBUKTI bahwa bakso langganan gw tersebut menjual daging Tikus, itu ternyata hanya kabar burung yang tidak bisa dipercaya. Jika nanti gw balik ke cimahi gw bisa makan sampai puas tanpa ada rasa ketakutan, inilah…. kemerdekaan yang sesungguhnya (Absurd memang).

Okay kalau kita kilas balik bulan ini, sungguh terlalu banyak kejadian-kejadian yang cukup di batas kewajaran. Di dunia infotainment makin kisruh berita tentang artis yang katanya memakai narkoba padahal narkoba yang dimaksud tidak terdaftar sebagai obat terlarang so far. Di dunia keamanan negara, ada adegan action kaya di film-film penjahat menginfiltrasi gedung dengan perlengkapan lengkap dan membunuh orang-orang tapi ini kejadian nyata di sebuah penjara di pulau jawa ini. Di tengah-tengah kisruh keamanan seperti ini, kepala negara malah sibuk ngurusin gunjang-ganjing partainya sendiri dan mencoba menyelamatkannya, bahkan saat berita ini diturunkan beliau baru saja menjadi (lagi) ketua umum partai-nya (hello pak, itu kasus korupsi sama penyerangan diapain pak?).

Politik, satu kata yang sangat sulit sekali untuk ditemukan definisinya, sulit dimengerti dan sulit untuk dipahami namun mutlak untuk diikuti. Di Indonesia tahun depan, 200 juta orang lebih akan masuk dalam apa yang gw katakan, “Permainan Politik”, yang dinamakan Pemilu 2014. Semua orang antusias untuk berkontribusi bagi bangsa ini, memilih kepala negara beserta aparatur-aparaturnya yang baru yang katanya adalah dipilih langsung oleh rakyat. Kenapa gw katakan ini adalah permainan politik belaka, simple banget, karena gw yakin dari 200 juta orang yang akan berpartisipasi, tidak semua mengerti apa itu politik, apa yang harus dia pilih sebenarnya di pemilu ke depan dan apa dampak dari pilihannya bagi negara ini ke depannya. Di negara ini, sepertinya hampir semua hal yang bukan bersifat karakter, perasaan dan kepribadian, bisa dibeli oleh uang dan fatalnya, kursi sebagai wakil rakyatpun tidak luput dari perdagangan ini, seolah-olah bangsa ini memperdagangkan jabatan negaranya sendiri kepada rakyat-rakyat yang katanya cinta rakyat dan menamai dirinya  wakil rakyat. Mereka maju sebagai calon wakil rakyat dan kita diberikan pilihan terbatas untuk memilih mereka. Untuk kita mau memilih mereka, kita kadang dijanjikan hal-hal yang akan memperbaiki dan menyejahterakan hidup kita sebagai rakyat tapi sepertinya kita tidak diberitahu bahwa rakyat jelata seperti kita mendapatkan prioritas terbelakang dalam hal kesejahteraan, sedangkan wakil rakyat tersebut menjadi yang terdepan dan berlomba-lomba mendapatkannya dengan leluasa. It’s just a game of politics of 21th century.

Ada dua hal yang gw amati dan gw kurang setuju dengan apa yang para wakil rakyat ini mau lakukan yaitu:

1. Rumusan KUHP tentang Santet. Jadi para wakil rakyat kita di sana, entah kurang kerjaan atau apa, mereka sekarang ini lagi gencar merumuskan undang-undang pidana mengenai santet. Jadi jika ada orang yang ngaku-ngaku bisa santet atau apapun yang berhubungan dengan itu, maka akan ditangkap dan dikenakan pasal pidana. Gw pribadi percaya sih ada yang namanya santet atau hal-hal magis lainnya, tapi gw juga orang yang cukup logis untuk tidak membawa hal-hal itu masuk sebagai hukum satu negara. Indonesia adalah negara yang berasaskan pancasila, di mana kita bangsa yang agamis, percaya dengan Tuhan yang Maha Esa, dan tidak semestinya kita ketakutan dengan yang namanya santet hingga harus dijadikan hukum negara ini. Tapi memang gak ada salahnya juga kok jika dijadikan hukum, asal jelas aja nanti bagaimana implementasinya jangan dijadikan lahan nangkep orang n meras orang yang katanya bisa santet. Jika belum siap dan detil bagaimana penerapannya, jangan coba-coba dijadikan hukum yang sifatnya legal dan nasional.

Nah yang bikin gw kontra dengan usulan ini adalah, para wakil rakyat kita mau study banding ke eropa terkait hal ini. Ini kan gak masuk akal, klo kalian pernah ke eropa dan belajar di sana beberapa lama, kalian akan tahu bahwa orang eropa gak tahu tentang santet menyantet, banyak dari mereka gak percaya gitu-gituan; mereka bukan bangsa yang punya culture seperti itu dan juga mereka lebih banyak berorientasi pada pemikiran logis dalam mencapai apa yang mereka mau. Gw gak pernah tuh lihat ada orang gay atau orang normal di Belanda atau Prancis sana yang pakai pelet atau ilmu gendam, bahkan gak ada di koran lokal mereka. Gw juga gak pernah liat ada iklan tukang jago santet dan menawarkan jasa santet di sana seperti di negara ini. Tapi entah kenapa, studi bandingnya malah ke eropa, ini wakil rakyat mau studi banding apa mau nonton liga champions gratis pake uang pajaknya rakyat sih sebenarnya? Tipis bedanya emang dan hanya Tuhan yang tahu.

2. Rumusan KUHP tentang menghina Presiden dan Wakil Presiden. Saat kejadian 1998, para mahasiswa berguguran dalam menciptakan satu negara Indonesia seperti sekarang ini, yaitu dari negara yang dipimpin dengan cara otoriter menjadi negara yang menjunjung tinggi demokrasi dan kebebasan dalam banyak hal, salah satunya adalah kebebasan berpendapat. Kata orang, kalau jaman dulu kita coba-coba kritik keras pemerintahan atau presiden, besoknya kita udah hilang aja gak tahu ke mana. Tapi sejak 1998 hingga sekarang, kita menikmati yang namanya bebas berpendapat walaupun kadang kita kurang bertanggungjawab dengan pendapat-pendapatnya kita itu. Banyak orang yang gak puas dengan pemerintahan yang korup, melontarkan kritik lewat lagu-lagu, tulisan-tulisan di media massa, bahkan stand up comedian di Indonesia speak up juga mengenai ini. Coba kita telaah baik-baik, mereka melakukan ini bukan berarti mereka mau memberontak tapi mereka peduli dan secara blak-blakan mengungkapkan apa  yang mereka pedulikan, apa yang mereka alami, rasakan dan mau mereka jelaskan. Kalau mereka gak peduli, mereka juga gak akan berkomentar dengan keadaan pemerintahan ataupun presiden dan wakil presiden. Sampai sekarang gak pernah kan ada gerakan kudeta presiden atau percobaan pembunuhan presiden kaya jamannya pak karno dan pak harto dulu.

Negara ini sudah cukup aman dan mantap dalam menerapkan dasar demokrasi bebas berpendapat; kadang pemimpin kita justru yang seperti anak kecil. Ingat kan dulu waktu kita masih anak-anak, kadang kita dihina or diejek ama temen sepermainan kita, udah gitu kita nangis n ngadu ke bokap or nyokap kita untuk mencari keadilan. Sama aja kan klo kuhp ini disahkan, ada ejekan atau kritik dikit aja tiba-tiba kita dipenjara beberapa tahun or disuruh bayar beberapa puluh juta, ini lebih bahaya dari jaman dulu yang suka culik-culik orang yang kritis sama pemerintah, ini seperti menghapus para kritikus dengan cara paksa dan legal secara hukum. Coba seandainya pres dan wapres lebih dewasa, mereka menjawab kritik atau hinaan orang ke mereka bukan dengan menjebloskan orang-orang itu ke penjara, tapi mereka jawab dengan hasil kerja mereka yang memang dampaknya berasa buat orang-orang itu dan terbukti memang bertujuan mensejahterakan rakyat. Gak perlu pake KUHP, cukup meresponi kata-kata orang dengan pemikiran yang bijaksana, hati yang bersih, dan tangan yang mau bekerja lebih keras lagi. Kalau rakyat senang, masa sih rakyat tega kritik atau menghina presiden dan wakil presiden, toh rakyat juga yang memilih mereka (walaupun terpaksa, mungkin).

Kadang gw jadi ingat kisah tentang the 7 sleepers of Efesus, kalian bisa cari kisah ini di google. Gw kadang berharap para wakil rakyat di gedung-gedung itu tertidur saat rapat atau apa gitu, dan mereka terbangun 200 ratus sampai 300 ratus tahun ke depan sama seperti kisah 7 sleepers. Mereka bangun dan lihat negara Indonesia menjadi negara yang berbeda, negara yang makmur, sejahtera, benar-benar menjunjung tinggi persatuan (berbeda-beda suku dan agama namun satu faham nasionalis), hidup harmonis, bebas korupsi dan yang ada hanya orang-orang dengan kehidupan yang dewasa, arief dan menjunjung tinggi nilai-nilai luhur bangsa  ini yang berasaskan pancasila.

Dan di saat mereka terkesan dengan itu semua, mereka bisa bertanya kepada rakyat Indonesia 200 atau 300 tahun yang akan datang itu, “Dulu di jaman kami, Indonesia tidak begini, rakyat susah cari beras, bahkan harga bawang saja selangit; bagaimana jalan ceritanya Indonesia semakmur sekarang?”

Dan orang-orang tersebut menjawab “Simple ternyata solusinya, bangsa kami mulai berubah menjadi lebih baik dan maju sekitar 300 tahun lalu, saat ada golongan yang namanya wakil rakyat baru pulang dari jalan-jalan keliling dunia menggunakan uang rakyat dan tertidur dan somehow tidak bisa dibangunkan.”

Salam Bhinneka Tunggal Ika.

Yosua Kristianto

P.S. 7 Sleepers of Ephesus

 seven sleepers

The Story of Oma and Madi

Dear Readers,

 

Thanks a lot untuk kesetiannya membaca dan juga menantikan blog ini dari awal mula 2010 blog ini dibuat hingga 2013 sekarang ini. Sudah cukup lama rasanya 3 tahun dan mencoba menghasilkan 1 post per bulan (at least). Di tengah gonjang-ganjing Jakarta kena banjir, politik yang gak stabil di negara ini atau mungkin hari yang udah deket-deket valentine; ternyata tidak cukup untuk membuat gw menulis postingan blog di bulan Februari. Anda saja menulis blog seperti mengucapkannya pada telinga computer yang memiliki kemampuan langsung mengubahnya menjadi tulisan dengan tingkat kecerdasan yang tinggi dan zero error (Alien di luar sana, adakah kalian teknologi ini, jika ada tolong sharing knowledge pada other Gates or Jobs).

Yang membuat gw hari ini menulis postingan adalah berita heboh dari mama gw, yang pertama adalah buyut gw baru meninggal kemarin malam, memang usianya sudah cukup lanjut 90++ dan memang sudah saatnya aja. Personally, gw bertemu beliau beberapa kali, kebanyakan beliau datang ke gereja di Cimahi secara beliau juga sempat menggembalakan sebuah gereja. Kemudian gw ingat waktu tahun 2011 kemarin mengunjungi rumahnya di Weleri kita pernah bertukar beberapa kalimat dengan bahasa Belanda karena beliau memang keturunan Belanda dan fasih banget berbahasa Belanda; tetapi memilih tinggal di Indonesia dan melupakan haknya dia dulu untuk pindah ke Belanda saat order baru dimulai. Tidak ada sih memang pembicaraan kita yang cukup dalam secara personal tapi gw cukup mengamati bagaimana kisah hidupnya dia yang gak pernah putus berpengharapan dan kagum juga dengan ingatan beliau yang kuat walaupun usianya sudah 90 lebih, wel tot ziens overgrootmoeder, Ik geloof dat u blij bent op de hemel boven, met God in uw rechterkant en andere heilege mensen in uw linkerkant.

Yang kedua setelah percakapan serius mengenai kematian buyut gw, adalah mengenai tukang bakso langganan gw di Cimahi yang udah gw makan (baksonya yang dimakan, bukan tukangnya) dari sejak kecil bahkan dari mama gw masih muda dan belum nikah. Desas-desusnya tukang bakso favorite kita ini ditangkap oleh polisi karena diketahui menggunakan borax dan juga daging tikus. Jeng jeng jeng, it means over these years and hundreds of meatballs bowls that I swallowed; I ate the rats/mouses meats. If we think about it, it will not be very appropriate to imagine about that, but honestly I say to you that it is still delicious! Enak beneran baksonya, gak nyangka kalau bener pakai daging tikus, daging tikus ternyata cukup enak. Cukup absurd memang komentar gw ini, cuma gw beneran gak boong dan gw masih berharap kalau desas-desus itu bohong (still borax is not something good to eat).

Gw cukup shock dan gak percaya dengan kabar burung itu, tapi dikuatkan dengan komentar papa gw yang katanya udah tahu itu pakai borax tapi diam-diam aja dan dia jarang banget mau makan baksonya (seandainya semua polisi kaya bokap gw, it means gak ada penjahat yang akan ketangkep). Well, setelah diamati kembali, bakso yang mengandung borax ternyata memiliki tekstur yang keras dan awet, bahkan setelah 1 atau 2 hari kemudian dipanaskan, sangat awet dan tidak menunjukkan perubahan berarti. Jika kita hidup di Cina, menggunakan borax dan juga daging tikus adalah wajar (katanya di Manado juga wajar untuk mengonsumsi daging tikus), namun negara kita ikut-ikutan America yang melarang penggunaan borax sebagai bahan kimia yang dikonsumsi.

Memang daging tikus tidak bisa kita bedakan seperti apa jika sudah dicampur dengan daging sapi, so sulit sekali mengetahui bahwa ada daging tikus di bakso yang kita makan. Gw jadi belajar bahwa belum tentu semua makanan halal walaupun seorang haji yang memasaknya, business is still a business and we have to be aware with that one. Namun berhubung memang enak sih rasanya so gw gak bisa menyesalinya juga, I mean, it is a past now and we are still waiting for the truth of this issue. Positifnya yang gw pikirin sekarang, siapa tahu ternyata waktu diteliti lebih lanjut, yang membuat bakso itu enak bukanlah daging tikus ataupun borax tapi ternyata Cathinone, mungkin sekarang tukang bakso itu sedang bersama dengan Rafi membahas siapa-siapa saja sindikat pengedar Cathinone di bumi Indonesia ini. Jika ternyata faktanya bukan seperti itu, it is just fine for me.

Points of learning: every people has full right to take opportunity to be rich, using many ways are valid enough in this world; but for several parts of the world, people define riches by virtuous deeds and sagacious minds.

Regards,

 

Yosua Kristianto

P.S. Happy Valentine, from Borax:

Borax Love Crystals

Borax Love Crystals

Faith for the Faith List

Happy New Year !!!!!

Tolong maafkan ucapan selamat tahun baru gw yang telat (banget) itu, hehee. Oukay, tahun baru selalu identik dengan yang namanya “RESOLUSI” atau “WISH LIST”.  Kemarin, tepatnya hari Kamis malam, gw dan beberapa temen gw yang ada di CareCell pun melakukan hal yang sama, meskipun sedikit berbeda dengan orang kebanyakan. Ya, kalau orang biasanya menyusun “WISH LIST”, malam itu kami menyusun “FAITH LIST 2013”. Jika dilihat dari segi bahasa, mungkin hanya beda tipis, tapi coba anda mengambil waktu sebentar untuk benar-benar memikirkan makna yang terkandung pada perbedaan kata “WISH” dan “FAITH” tersebut. Gw yakin anda akan menemukan perbedaan yang cukup besar di sana.

Anyway, kebanyakan dari FAITH LIST kami (yang detailnya gak akan dibahas pada kesempatan ini, sorry) kalau dilihat dan dipikirkan sepintas, rasanya sulit untuk menjadi kenyataan di tahun 2013 ini. But, that’s the point. Faith is the substance of things hoped for and the evidence of things not seen. It’s the witness to our heart that we have met the conditions of His will pertaining to a certain promise, yeah that’s why we call it as FAITH LIST.

I learn that growing faith is a work. Some things come easy and some do not. Some things require prolonged and commitment, but we know we’ll get there. For with our God, nothing is impossible.

So, stand in faith today,
Even when you can’t see your way
Even when you feel like you can’t face another day
Hold on and be strong
For He is still on the throne
Knowing that He can change the situation suddenly
And He has already made the way

Our faith might not rest in the wisdom of man, but in the power of God.

Farewell 2012, the Post on Day 366 in a Year

Dear Readers,

Tidak terasa kita sudah berada di penghujung tahun 2012 yang berjumlah 366 hari ini (hello orang-orang yang menyangka 2012 itu 365 hari, please hitung dengan lebih teliti). Banyak sekali hal yang terjadi di tahun 2012 ini, but overall it is a happy year for me personally.

Di tahun 2012 ini saya sendiri belajar banyak mengenai keluarga, ya mungkin terdengar klasik banget, karena postingan blog-blog sebelumnya yang memang udah banyak membahas tentang kebersamaan dan kekeluargaan. Tapi tahun ini saya belajar bahwa dua lebih baik daripada satu. Saya memang belum menikah tahun ini, tapi saya mulai bisa membayangkan bagaimana pernikahan akan membawa dua keluarga besar menjadi satu keluarga yang lebih besar lagi, artinya buat masing-masing orang, dia akan memiliki papa dan mama yang baru (disebut mertua) dan juga kakak atau adik yang  baru (yang acap kali disebut ipar).

Memiliki satu keluarga saja sudah menimbulkan banyak cerita dan momen yang tak terlupakan, bagaimana dengan menambah satu lagi, itu menjadi double cerita dan double momen kebahagiaan yang tak terlupakan. Namun untuk sekarang, biarlah ceritanya disimpan di hati saya dulu saja, hehehehe. Semoga di tahun 2013, saya sudah bisa menceritakan banyak kepada para pembaca bagaimana bahagianya momen-momen tersebut.

Di tahun 2012 ini saya juga merasakan sulitnya untuk bisa memiliki tubuh yang kurus. Semenjak 24 tahun hidup, baru di tahun 2012 saat berumur 25 saya merasakan sulit juga diet, sulit juga menurunkan berat badan, ternyata banyak cara-cara perjuangan orang-orang dan banyak juga yang merasakan kegagalan untuk bisa kurus. Saya yang semula ingin memiliki berat badan 62, sekarang itu semua menjadi target yang sepertinya sulit dicapai oleh tubuh berberat 69 kg ini. Mudah-mudahan di tahun 2013 nanti, saya memiliki niat dan tenaga ekstra untuk bisa mencapai at least 64 kg.

Untuk komitmen ngeblog sendiri, sepertinya masih perlu ditingkatkan, saya berencana tetap regular menulis blog dan juga mulai melanjutkan puisi-puisi yang belum sempat diteruskan karena alasan satu dan lain halnya (mainly karena akses internet dan komputer yang sulit didapat, anomali yang jarang terjadi pada orang yang bekerja di bidang IT, but it happens). Sebenarnya tahun 2012 ini saya sangat ingin menulis kerangka untuk sebuah buku, banyak sekali inspirasi dari film-film luar biasa buatan anak bangsa seperti Perahu Kertas, 5 cm, Ainun & Habibie. Saya juga jadi tertantang untuk menulis kisah yang suatu saat bisa juga memajukan dunia perfilman bangsa ini. Sudah habis harusnya film berkualitas rendah yang bangsa ini buat, sudah seharusnya kualitas yang baik dan cerita yang mumpuni yang layak untuk ditonton oleh generasi Indonesia modern ini.

Akhir kata, saya berharap dan berdoa yang terbaik untuk kita semua di tahun 2013, saya bisa prediksi bahwa tahun 2013 belum kiamat, dan jangan sampai momok kiamat menghentikan kita semua untuk terus berkarya dan berprestasi di kerjaan kita masing-masing, jangan lupa juga untuk terus berbahagia bersama keluarga tercinta, 2 lebih baik dari 1.

As the two birds came along

they gather grasses and fibers all along

they plan and build their pendant nest

and assemble pure love that births happiness

Regards,

Yosua Kristianto

Birds-Nest-Pendant1

Tribute to Heroes of The Nation

Dear Readers,

Happy November it means a welcome to the rainy season in Indonesia. Anyway, kali ini saya gak akan ngomongin tentang rainy days or anything about it. Ada satu topik yang cukup menarik untuk dibicarakan dan tentu ini menarik perhatian saya, yaitu pemberian gelar pahlawan nasional untuk Soekarno-Hatta. Saya yang sangat suka dengan sejarah, baru tahu kalau ternyata so far (sebelum akhir-akhir ini tentunya), dwitunggal prokalamator kita yaitu Soekarno-Hatta belum bergelar pahlawan nasional, ternyata dulu mereka hanya diberi gelar pahlawan proklamasi saja oleh pemerintahan pak Harto. Baru di tahun 2012 ini, President SBY memberikan gelar pahlawan nasional kepada dwitunggal (I have to admit that this one is really really a great decision from the president).

Dari sejak dulu, saya memang merasa miris dengan pemberitaan-pemberitaan sejarah masa lalu yang tidak akurat mengenai Soekarno. Buat saya pribadi, Soekarno dan Hatta adalah teladan luhur dari dua insan yang berjuang dalam era kemerdekaan. Mereka berdua pernah menjalani masa-masa pembuangan yang sulit namun tetap berpegang pada prinsip dan paham mereka untuk mewujudkan satu negara Indonesia yang merdeka dan bebas dari penjajahan. Soekarno-Hatta sendiri memiliki banyak perbedaan dalam gaya berpolitik dan pandangan satu dengan yang lain, namun demi tujuan kemerdekaan Indonesia, mereka mengenyampingkan perbedaan dan melayani satu visi yang sama, what a true hero of this country.

Saya selalu terinspirasi saat mengenang Bung Karno yang bukan cuma membawa Indonesia menjadi negara merdeka, beliau juga mengerti betul arti dari wibawa Indonesia sebagai bangsa yang besar. Saya yakin kita semua ingat bagaimana beberapa keputusan berani nan gagah beliau seperti keluar dari PBB saat Malaysia masuk dalam PBB, atau saat beliau berpidato dengan menggebu-gebu demi memompa semangat dan jati diri bangsa untuk berani berperang jika ada negara lain yang berani mencoba melakukan infiltrasi kepada wilayah NKRI. Bung Karno juga orang yang memiliki visi yang luar biasa dalam hal perekonomian bangsa, mungkin kita bisa kembali di sekitar 50 tahun lalu, di saat tahun 1960-an, Bung Karno secara jelas menciptakan Poros Jakarta-Peking-Moskow, bekerjasama dengan dua bangsa yang besar di mana kedua bangsa tersebut (RRC dan Uni Soviet) sangat segan dan menghormati bangsa Indonesia. Saat itu Bung Karno menentang paham dari semua negara kapitalis dan neo-kolonialisme, dia memutuskan kerjasama ekonomi dengan negara barat dan memilih bekerjasama secara ekonomi dengan RRC dan Uni Soviet. Sayangnya, moment seperti ini justru dipakai oleh oknum-oknum untuk mencap Bung Karno sebagai orang yang menginginkan Indonesia menjadi negara komunis. Padahal, belum tentu negara yang bekerjasama secara ekonomi dengan komunis akan menjadi negara komunis, di satu sisi semangat nasionalis Bung Karno di masa perjuangan seakan-akan dilupakan. Alhasil, banyak orang yang melabelkan Bung Karno sebagai pengkhianat. Ironis rasanya, masakan seorang ayah bangsa berkhianat kepada bangsa yang susah payah dilahirkannya sendiri…

Tak lengkap rasanya jika kita tidak membahas mengenai Bung Hatta. Beliau tidak terlalu banyak bicara seperti Bung Karno yang memang tiada tara dalam hal berorasi dan berpidato, namun Bung Hatta seperti air tenang nan dalam. Bung Hatta yang juga dikenal sebagai Bapak Koperasi Indonesia, memiliki visi yang mulia yaitu meningkatkan ekonomi bangsa dengan lebih banyak memberdayakan sumber daya rakyat lokal. Beliau seakan bisa melihat jauh ke depan bahwa demi mempertahankan kemerdekaan, rakyat harus bisa memiliki self-sustaining economic system. Beliau juga melihat bahwa daerah-daerah tidak boleh tergantung kepada pemerintah pusat demi meningkatkan pembangunan dan level perekonomian daerah tersebut, justru mereka harus bisa menjalankan perekonomian otonomi daerah mereka secara makmur. Visi-visi inilah yang membuat Bung Hatta begitu radikal dalam hal memajukan koperasi. Sayang memang sayang, saat keadaan dunia mulai membaik secara ekonomi saat awal orde baru, pinjaman tunai lebih banyak dilarikan ke para pengusaha dibandingkan kepada koperasi; alhasil seperti kita lihat sekarang ada perusahaan milik personal yang menjadi sangat kaya dan merajai berbagai bidang perekonomian di negara sekarang ini, sedangkan nasib koperasi? Masih terus bersaing sama seperti era 1960-an. Saya sendiri tidak habis pikir dengan apa yang dipikirkan orang-orang pemberi kredit era orde baru, Bung Hatta bukanlah sekedar orang biasa, menilik dari latar belakang pendidikan beliau seorang sarjana ekonomi dari Rotterdam (sekarang adalah the famous Erasmus Universiteit); beliau tentu tahu bagaimana power dari sistem Koperasi jika dijalankan dengan pengawasan yang baik dan dibekali dengan dana yang cukup. Hati Bung Hatta jelas setia kepada rakyat, keuntungan pribadi tidak dicarinya sama sekali, kesejahteraan rakyat demi menunjang kelangsungan bangsa Indonesialah yang selalu di hati dan pemikirannya hingga akhir hayatnya. Memang berbeda dengan anak-anak yang terkadang hanya tahu menghabiskan uang dari orang tuanya, seorang bapak bangsa seperti Bung Hatta seperti ayah yang hanya peduli kepada seluruh anak-anaknya, yaitu seluruh rakyat Bangsa Indonesia.

Dianugerahkannya gelar Pahlawan Nasional kepada Soekarno-Hatta, mungkin tidak banyak berarti di kaum anak-anak muda jaman sekarang yang bisa dibilang tidak terlalu mementingkan hal seperti ini. Namun jika saja ada kaum muda yang menangkap maksud dan pesar luhur dari hal ini, tentu hal ini bukan hal biasa saja, Indonesia bisa kembali kepada puncak jayanya sebagai bangsa besar yang disegani bangsa-bangsa besar lainnya. Dengan ‘dibersihkannya’ reputasi kedua bapak bangsa kita, maka kita sebagai anak muda harus bisa juga menangkap kembali dan mulai memahami visi dan tujuan dari para bapak bangsa kita terdahulu (Soekarno-Hatta), apa yang menjadi visi dan nilai-nilai mereka harus kita lanjutkan dan pelihara. Biarlah, kalian para pembaca, mulai berpikir lebih luas lagi, bukan untuk diri kita sendiri tapi untuk kepentingan banyak orang. Semangat nasionalis dan kesatuan sebagai satu bangsa yang dinamakan Indonesia, harusnya bisa membuat banyak perbedaan menjadi satu, seperti semboyan negara kita Bhinneka Tunggal Ika (bermacam-macam namun satu jua). Sudah saatnya muncul ‘pahlawan-pahlawan muda’, berjuang demi mewujudkan kemerdekaan penuh bagi bangsa ini. Merdeka Indobnesia, terima kasih Bung Karno dan Bung Hatta.

“A Real Hero is an Individual Who Thinks, Acts, Be Committed and Be Ready to Sacrifice for any Causes with any COst For The Sake of Multitudes” - Yosua Kristianto

P.S. Biarlah semua insan melihat kedua figur bapak bangsa, merenung dan mendapatkan secercah hikmat perjuangan beliau dan terkemudian terpahat pada batin hati mereka….

Warisan Luhur untuk Bangsa Indonesia, Soekarno-Hatta (De Duumvirate)

Slow Down and Breath

Dear Readers,

November is soon to come. My days has been busy lately, yeah our days can be busy. In fact too busy sometimes with work, meetings, racing from one place to another, to do list, planning, etc. Whew… I don’t know about you, but sometimes, there are moments where I become tired just reading (or even thinking) the list of ways our lives can become one gigantic timetable of events and things to do. Then, there are days with the extra challenges, as if you didn’t have enough already. Yeah, those are the times where the emotions are running higher than usual, and uncertainties seem like they are around every corner you turn.

Some days can feel like a ride at amusement park where you want to, or may have screamed, “Stop. Let me off this ride”. Sometimes in life we just have to say, “Stop. Slow down a minute. Breathe.”

–after slowing down a minute and breath–

I start seeing that days are filled with precious moments with our name on them waiting to save us and be savored by us. Unless we reduce our speed, pause, or stop altogether, they will go unnoticed and unappreciated. Some people don’t see them, others see them but don’t feel them or appreciate the value those things are offering. Let those moments sink in for a minute. Acknowledge their gifts. Appreciate what they can do for us.

What are these precious moments? Anything and everything!

To name just a few, right now with the over load of work I can see the sun shining through the window and warming the room as I’m sitting and I’m aware of the comfort of the pouch under me.

Then I realized, that there isn’t a day that goes by that I can’t find at least one thing to appreciate and let seep into my senses and transform a demanding day back to one of ease, patience, and peace. Sure, sometimes it takes a bit longer than others depending on the day, but it all comes down to allowing yourself to slow down enough to acknowledge and allow those times in. Look around. What do we see, smell, taste, touch, or hear? If we can’t appreciate anything in our immediate surroundings, step outside for a minute and take a deep breath. Nature is overflowing with abundant, magnificent, beautiful and breath-taking precious moments ready to fill the soul and replenish and lift the spirit.

It is wonderful to move out of busy-ness and back to being-ness, but it doesn’t stop there. They actually offer us many things, could be peace, a break, inspiration, hope, freedom, love, connection, energy, etc.

Let these invaluable moments work their magic in our heart, our days, and our life. Don’t let them pass us by any longer. Take time at the end of the day to write down these precious moments and let them sink in even deeper.

The best and most beautiful things in the world cannot be seen or even touched – they must be felt with the heart
~ Helen Keller

Learn to slow down and appreciate the precious moments in your days.

Regards

Yosua Kristianto