Hai readers,
Menyambung dari kisah perjalanan keluarga ke Singapore, kali ini saya mau mencoba menceritakan pengalaman hari kedua kami. Rencana kami pada hari kedua adalah sightseeing menggunakan Hippo Tour. Paket Flyer yang ditawarkan memang terbilang cukup menguntungkan, dengan mengeluarkan biaya sebesar 49 SGD per orang, maka kami dapat akses Hip on dan Hop off selama 48 jam dan juga bisa naek River Cruise + Singapore Flyer klo kita beli tiket satuan maka River Cruise 15 SGD + Singapore Flyer 29 SGD, total 44 SGD, cuma beda 5 SGD saja untuk akses 48 jam bus Hippo Tour, cukup murah!
Okay pagi hari saya sudah bangun (karena dibangunin mama), breakfast bareng papa (gw makan udah kaya monster) dan siap menjalani kegiatan-kegiatan hari ini yang sangat berkesan.

Zijn Klaar voor de Tweede Dag
Dari hotel kami naik bus 1x langsung berhenti di Orchard Road. Setelah membeli Flyer Package, kami langsung menggunakan Hippo bus untuk sekedar keliling dan melihat-lihat bagaimana kota Singapore di pagi hari. Seperti sebuah mimpi, bisa menikmati kota dengan gedung-gedung tinggi dan juga tertata dengan rapih tanpa ada yang namanya KEMACETAN. Berbeda sekali dengan apa yang biasa kami alami di Bandung ataupun Jakarta. Walaupun lama-lama bosen sih, terutama adik saya yang kurang suka jalan-jalan dan berasa ngantuk sekali pada pagi itu.

Bus Hippo Original Tour

In the Bus

Along the Way

Nice Shot inside the Bus
Akhirnya, selagi orang tua menikmati pemandangan kanan-kiri, sayapun sedikit tertidur di bus tersebut.

Sleeping Everywhere hwhwhw
Setelah puas 1.5 jam keliling-keliling, maka kamipun memutuskan untuk turun di Chinatown karena mau beli cendera mata bagi orang-orang yang kami kasihi seperti saudara, kekasih hati, dan teman-teman kami. Ini tentu jadi bagian favoritnya mama saya, sebagai wanita satu-satunya di keluarga kami hanya dia yang memiliki passion berbelanja di atas rata-rata. Sedangkan para lelaki seperti saya, papa dan dede, kami hanya menemani jalan dan komentar “lama amat, ayo jalan lagi ke sana. Jangan disini aja.”

Fam in Chinatown

Papa walked along Chinatown

I wished I had one
Kami juga makan siang di Chinatown, papa saya pesen Mie, mama pesen Bihun, dede pesen nasi goreng, nah saya cuma pesen jus Pisang-Strawberry (masih kenyang karena makan gila-gilaan waktu breakfast tadi). O ya segala keperluan beli oleh-oleh sudah dihandle oleh mama, jadi buat yang gak kebagian, please don’t complain to me. hwhwhwhwhw

I love the way I looked

Lunch at Chinatown
Di daerah sekitar chinatown di hoek jalan juga ada satu kuil Hindu yang cukup besar yang sedang direnovasi sehingga pengunjung pada hari ini tidak bisa masuk untuk sekedar melihat-lihat, kami hanya bisa melihat dari luar saja.

Papa in front of Hindu's Temple
Satu hal yang cukup menarik perhatian saya adalah patung sapi yang berada di atas tembok pinggiran kuil tersebut, ternyata patung tersebut merupakan tempat favorit bagi persinggahan burung-burung di daerah sana. Sehingga patung ini menjadi pelampiasan digestive system para burung, mungkin karena warnanya putih jadi burung-burung tersebut berasa comfy banget. Well lihatlah malangnya patung ini:

Nasib-nasib
Beranjak dari Chinatown, kami kembali masuk ke Bus Hippo Tour, untuk beristirahat di bus sembari melanjutkan perjalanan ke Merlion Park. Merlion Park adalah tempat yang wajib untuk dikunjungi bagi semua orang yang berwisata ke Singapore. Bukan hanya sebagai tempat untuk berfoto bersama patung Merlion yang jadi ikon negara Singapore, tetapi tempat ini memiliki 360 view yang cukup perfect untuk melihat modernitas Singapore. Ya singkat kata, ini adalah tempat ok buat foto-foto dan juga mejeng-mejeng.

At Merlion Park
Di Merlion Park ini, saya (yang sedang galau walaupun saat liburan) cukup terhibur karena saya bisa melihat Rainbow tepat di bawah cucuran air si Merlion. Melihat Rainbow itu adalah peristiwa yang cukup langka bagi saya, jika dipikir lagi, mungkin dalam1 tahun saya cuma melihat itu 3-5 kali saja dan saya jarang sekali menemukannya di kota besar seperti Jakarta. Nah mengapa Rainbow ini menghibur hati? Karena saya teringat akan quote terkenal di dunia ini (gak tahu sama yang coined ini): “Everyone wants happiness, no one wants pain, but you can’t make a rainbow without a little rain.” I bear so much pain of losing the weight of a relationship and while I am striving for weighing it, but I remember that it will be very nice, I will make a rainbow by enduring the little rain…

Rainbow of A Little Rain

Do you read my hand's sign?

Reading the Merlion's Poem

I don't really get it
Setelah puas mengambil beberapa foto dan terkagum-kagum dengan pemandangan di sekitar kami, maka kamipun berjalan menyusuri Singapore River. Satu hal yang membuat papa terkesan adalah jalanan di Singapore yang memang direncanakan dengan baik, salah satunya terlihat dari banyaknya “underpass” yang dibuat untuk memudahkan para pejalan kaki.

Underpass Near Merlion Park
Bahkan di salah satu underpass, ada counter Starbucks jadi kami bisa memesan kopi dan duduk-duduk bersantai jika kami lelah berjalan (di Indo mungkin gambaran yang hampir sama adalah menjamurnya tukang DVD bajakan di bawah jembatan T.T).

Holding Starbucks

See the Bridge, we have passed the Underpass
Setelah berjalan sembari menikmati Starbucks, tiba-tiba kami mendengar ada helikopter terbang mendekat, kemudian ada ledakan, ada tentara yang loncat dari helikopter tersebut ke laut lepas, bunyi rentetan peluru terdengar sangat dekat dan dentuman-dentuman mengguncang bumi. Suasana perang semakin terasa saat 3 buah pesawat jet tempur terbang melintasi kepala kami. Ya itu adalah suasana gladibersih dari perayaan National Day Singapore, 10 hari sebelum hari H.nya (9 Augustus). Kami sangat beruntung bisa melihat proses latihan dan gladibersih ini, at least kami jadi punya gambaran bagaimana pemerintah Singapore menyusun satu acara perayaan yang cukup serius dan berkesan, bahkan untuk gladibersih saja mereka sudah mempersiapkan fireworks yang biasanya hanya kita lihat jika tahun baruan. O ya, suasana perang tersebut membangkitkan adrenaline saya (I wished I lived in WW II era’s).

One of Team for The Attraction

The monument is similar with the Obelisk in Paris (see the helicopter?)

Their "Paskibraka" is Copters
Selepas Euforia singkat, kami sekeluarga melanjutkan perjalanan berjalan kaki rencananya mau foto depan patung Mr. Raffles, cuma ternyata gagal. Daerah sekitar Patung Raffles lagi direnovasi jadi tidak cocok untuk foto-foto, akhirnya kami lanjut lagi ke arah Hotel Fullerton. Hotel Fullerton adalah hotel yang sangat mahal, baik dari harga nginapnya ataupun dari sejarah hotel ini dibuat, miliaran US Dollar ngocor untuk membangun bangunan ini. Saat tahun lalu merencanakan trip ke Singapore ini, saya memang sudah berencana untuk sekali nginap di hotel ini namun apa daya, usul saya itu tidak didukung oleh Papa dan Mama, mereka menganggap itu adalah sesuatu hal yang boros dan lebih baik uangnya dipakai untuk beli oleh-oleh or buat main-main di Singapore (so saat 2015 saya ke Singapore lagi, saya berharap saya bisa merealisasikan keinginan saya menginap di Fullerton, so pray the best for me hwhwhwhw). Yah jadi sekarang cuma bisa foto di depannya dulu saja.

Fullerton

My Brother with His Style
Di dekat Fullerton juga ada beberapa statues yang unik, seperti patung anak-anak yang sedang loncat, nyebur, ke Singapore River ataupun patung satu kumpulan orang sedang berdiskusi. Karena saya dan dede iseng, maka kami mengubah sedikit cerita dari patung anak-anak yang sedang loncat bahagia ke Singapore River, versi cerita kami, anak-anak tersebut tidak sedang meloncat bahagia namun sedang kami tendang-tendang hingga jatuh ke sungai karena mereka iseng dengan kucing-kucing peliharaan kami (anda pun bisa bernasib sama jika berani mengganggu binatang peliharaan keluarga kami wkwkwkwkwkwk).

Kick them down!

Vergadering

It's getting dark

Classic on the right, modern on the left

Best Spot to Kill the Time
Setelah hari mulai gelap, berarti sudah waktu yang tepat untuk melakukan River Cruise. Mengitari Singapore River memang tidak lama, hanya sekitar 20 -30 menit saja, namun cukup mengistirahatkan kami dengan segarnya angin malam dan juga pengalaman mengitari sungai Singapore yang memang bersih, tidak ada satu sampahpun di sungai tersebut. Buat kami sekeluarga yang tinggal di Cimahi-Bandung, kami hanya akan dibilang “delusional” jika berani membayangkan menikmati River Cruise di Sungai Cikapundung (oh andai saja aku bisa kembali ke 200 tahun lalu, di mana Sungai Cikapundung masih layak untuk dikagumi dan dibanggakan oleh warga Bandoeng).

Singapore River Cruise

Cruising under the Bridge

That smile is enough to seal the day
That’s our second day (tweede dag), hari yang cukup melelahkan karena banyak berjalan kaki. Setelah kembali ke hotel dengan selamat (mulai terbiasa dengan penggunaan MRT), mandi air panas, papa saya hanya butuh waktu singkat untuk tidur (The fastest human being in falling asleep.

Vermoeid
Sedangkan saya masih lanjut nonton film seri cina kemudian perlahan-lahan menghilang ke alam mimpi, sembari menitikkan air mata, expecting to meet you, yes you in my dreams (but I don’t think you’re expecting the same thing or even thought about me. Well I’ll never know if you stay silent)…
With Love and Care,
Yosua Kristianto
P.S. For every starry nights that we can’t experience together, I just want to say to you, “sweet dreams, see u there. Don’t be far because I am hardly seeing if u’r far.”…. I’m off to sleep now.
