Dear Readers,
Bulan April, bulannya Kartini dan Warkop.
Buat orang yang hidup di pulau Jawa, sudah tidak asing ya dengan perayaan Hari Kartini, yang bergelar ibu negara Indonesia. Setiap bulan April dari jaman masih SD kita melakukan parade menggunakan baju daerah masing-masing dan itu terasa sangat menyenangkan (karena kegiatan belajar mengajar di hari itu diganti dengan merayakan hari kartini, a.k.a kartinian). Sampai sekarang gw udah dewasa pun ternyata hari Kartini masih dirayakan bahkan di kantor gw dengan lebih spesifik untuk para wanita. Mereka bekerja pada hari itu menggunakan kebaya dan menghadiri seminar yang kembali membahas mengenai emansipasi wanita, sebuah topik yang dibahas dari tahun ke tahun dan entah sampai kapan stop untuk dibahas. Sejujurnya gw sangat mengharapkan hal itu untuk stop dibahas!
Keras kan statement gw di atas, ya gw mengharapkan banget emansipasi wanita itu ditegakkan di Indonesia dan sudah tidak jadi isu lagi. Wanita pada hakikatnya memang berbeda dengan pria namun wanita memiliki segala hak penuh untuk memiliki pekerjaan, status sosial dan pilihan-pilihan seperti pria. Budaya di Indonesia masih sulit menerima wanita sebagai figur pemimpin dan lebih memilih pria yang maju sebagai pemimpin baik di organisasi, partai politik, ataupun perusahaan. Padahal nyatanya pria tidak bisa dibilang selalu lebih ahli dalam menjadi seorang pemimpin dan wanita layak diberi kesempatan memimpin, terutama mencoba untuk memimpin negara ini. Okay, balik lagi ke topik semula, gw pengen banget saat tahun kapan gitu kita ngerayan bulan Kartini, kita udah ngebahas bagaimana peranan wanita bisa bekerjasama dengan pria untuk memajukan bangsa ini dengan lebih efektif, sudah tidak perlu lagi para wanita menuntut emansipasi dan hak-haknya karena pada tahun itu emansipasi adalah bagian dari identitas bangsa Indonesia ini. Gw yakin suatu saat tahun itu akan datang dan itu pasti karena kita sudah punya para pemimpin negara yang bersih moralnya dan berintegritas, tidak seperti pemimpin dan wakil rakyat kita yang katanya pro rakyat tapi nyatanya….. ah sudahlah.
Pemimpin kita kelamaan hidup enak jadi kurang ngerti arti dari kata penderitaan rakyat, mereka harusnya malu dengan Kartini. Beda dengan Kartini, dia bisa dibilang hidup cukup enak sebagai inlander di jaman kolonialisme, ya karena dia berasal dari keluarga ningrat, tidak pernah kurang makan, nasi ada di rumah, mungkin juga dulu sering makan smoor daging tiap bulan dan pinter baca tulis bahkan nulis suratnya aja berbahasa Belanda (mungkin kalau jaman sekarang, Kartini akan banyak nge-tweet pakai bahasa Belanda juga). Nah kenapa Kartini bisa dikategorikan Pahlawan walaupun tidak pegang keris untuk nusuk tentara kompeni, itu karena di tengah hidupnya yang berkecukupan, Kartini ngerti yang namanya penderitaan rakyat. Dia sadar bahwa banyak wanita lain yang buta huruf, tidak memiliki skill dan pengetahuan yang cukup untuk menopang kehidupan mereka sendiri dan terpaksa hidup di bawah bayang-bayang kaum pria. Bukan karena pria lebih kuat secara fisik sehingga pria lebih diunggulkan daripada wanita, tapi karena wanita jaman itu minim pendidikan, minim kepercayaan diri dan ide kreatif untuk membuat terobosan kehidupan. Problem wanita tidak memiliki pendidikan dan pengetahuan yang cukup bukan cerita baru di jaman kolonialisme dari abad ke abad juga memang begitu, tapi Kartini yang hidupnya hanya 25 tahun, berani menciptakan solusi dengan membuka sekolah wanita pertama untuk inlander di Hindia Belanda, Keputusan yang sangat radikal di jaman itu! Keputusan radikal ini yang tidak kita lihat lagi sekarang di pemimpin kita, jangankan menciptakan solusi, mengakui kegagalan aja susah banget kayanya. Tahun 2013, Ujian Nasional bisa dibilang hampir gagal, dan seorang yang katanya pemimpin dan orang paling peduli dengan pendidikan di Indonesia bilang bahwa hal ini hanyalah sebuah Musibah (Gak malu kali ya ama Kartini). Pahlawan selalu memiliki kesamaan dalam hidup mereka, yaitu keberanian dalam melakukan apa yang seharusnya mereka lakukan demi kepentingan banyak orang; hal yang langka di jaman kemerdekaan ini.
Di awal postingan ini, gw menyandingkan nama Kartini dengan grup komedi Warkop, dan gw sengaja melakukan ini karena keduanya layak disebut pahlawan buat Indonesia. Jika Kartini menjadi contoh bagaimana seorang wanita bisa menjadi orang yang signifikan, begitu juga Warkop menyontohkan Indonesia bahwa negara ini masih bisa tertawa di tengah-tengah kehidupan yang tidak mudah dan banyak polemik. Gw sendiri begitu menggemari semua film warkop terutama saat mereka masih muda-muda dan berperan sebagai mahasiswa. Saat gw kecil gw melihat bahwa kehidupan perkuliahan itu menarik dan asik, sesuatu yang sangat gw tunggu-tunggu di saat gw kecil itu. Sekarang saat gw udah dewasa dan bekerja gw tetap berpikiran seperti itu dan berharap masih bisa kuliah lagi (Tuhan dengarkan doa gw ini).
Ok, terlepas dari film warkop yang suka menggunakan artis seksi, yang membuat film ini begitu berkesan adalah karena komedinya yang orisinil dan khas (tidak contoh komedi-komedi orang barat), selain itu ada kritik sosial yang disiratkan dalam film-film Warkop. Para personil warkop semuanya berpendidikan sampai level universitas dan mahasiswa saat itu merekapun ada yang turun ke lapangan dan berdemo mengritik pemerintahan yang bertangan besi dan penuh korupsi. Mereka konsisten dalam melakukan kritik tapi dengan cara yang kreatif, dengan apa yang mereka bisa yaitu Komedi. Gw percaya bahwa sebuah legenda dbentuk saat orang-orang bisa melakukan apa yang mereka lakukan dengan kebebasan dan menuangkannya dalam sebuah karya yang bermanfaat buat banyak orang secara konsisten. Warkop adalah legenda komedi Indonesia dari masa ke masa. Salut buat Warkop, you are a legend.
Akhir kata, Bulan April banyak pelajaran dan hal baru yang gw mulai lihat dan gw berharap kalian juga melihat hal-hal yang baru dan berbeda dari hal-hal yang sudah biasa terjadi dari tahun ke tahun. Mungkin gw bisa sebut bulan April adalah bulan yang menggambarkan keberanian dan konsistensi. Di akhir bulan April ini, mari kita bulatkan tekad, berkarya bagi diri kita dan orang lain untuk mengubah kehidupan kita menjadi lebih baik di saat orang yang lain mungkin tidak memperdulikan hal ini, keberanian dan konsistensi kita adalah keputusan kepahlawanan kita!
Salam Merdeka,
Yosua Kristianto




